Bocah 15 Tahun ini Banting Tulang Cari Nafkah dan Korbankan Sekolahnya Untuk Hidupi 4 Adiknya dan Seorang Ibu

Bocah 15 Tahun ini Banting Tulang Cari Nafkah dan Korbankan Sekolahnya Untuk Hidupi 4 Adiknya dan Seorang Ibu

Bocah 15 Tahun ini Banting Tulang Cari Nafkah dan Korbankan Sekolahnya Untuk Hidupi 4 Adiknya dan Seorang Ibu

Bocah 15 Tahun ini Banting Tulang Cari Nafkah dan Korbankan Sekolahnya Untuk Hidupi 4 Adiknya dan Seorang Ibu

AGEN TOGEL TERPERCAYAJuwadi, bocah 15 tahun yang sudah harus banting tulang bekerja, menghidupi empat orang adiknya dan juga sang ibu.

Prediksi togel paling jituBeban berat ini harus ditanggung Juwadi seorang diri setelah sang ayah, Mitro Slamet (63) meninggal dunia.

Sejak saat itu, Juwadi terjun ke dunia pekerjaan dengan menjadi buruh aspal serabutan.

Waktu yang dipakai untuk bekerja ini pun terpaksa membuat dia tidak menyicipi bangku sekolah, sehingga Juwadi harus menerima kenyataan pahit, tidak bisa membaca maupun menghitung.

via: tribunnews.com/rumah peninggalan almarhum ayah Juwadi, yang ditempati dirinya bersama keempat adiknya dan sang ibu

“Juwadi sendiri itu susah ngomong kayak celat, dia kerja bantu proyek aspal dan dari kecil tidak sekolah.

Dia buta huruf dan hitung tidak bisa baca tulis,” ungkap adik almarhum ayahnya (paman), Sendet (56), dilansir TribunnewsBogor.com.

Oleh karenanya, setiap pembagian hasil, Sendet yang juga bekerja bersama Juwadi, yang menerima gaji bocah tersebut.

“Kalau bayaran kerja, uangnya sama bosnya Juwadi dikasih saya, jadi anak ini tidak bisa menghitung jadi saya yang ngecakne (mengatur),” papar Sendet.

“Satu minggu dapat Rp 500 ribu, nanti buat saku adiknya dan makan keluarga saya yang bantu kelola,” tambahnya.

Adapun keempat adik Juwadi, yakni Rosidi (14) yang masih SMP, Suwarno (10) duduk di bangku SD, Ajeng (6) akan masuk TK, dan yang paling bontot adalah Siti Utari yang baru berusia 2,5 tahun.

“Adik-adik Juwadi semua bersekolah, cuma Juwadi yang memang memilih bekerja jadi buruh aspal untuk keluarganya,” kata Sendet.

Selain keempat adiknya, Juwadi juga harus menghidupi ibunya, Sutinem (45), yang tidak bekerja karena mengalami keterbelakangan mental namun masih bisa berkomunikasi dengan baik.