Seperti Ini Doa Terakhir Mantri Yang Tewas di Pedalaman Papua Sebelum Ajal Menjemput, Sungguh Mengharukan Banget

Seperti Ini Doa Terakhir Mantri Yang Tewas di Pedalaman Papua Sebelum Ajal Menjemput, Sungguh Mengharukan Banget

Seperti Ini Doa Terakhir Mantri Yang Tewas di Pedalaman Papua Sebelum Ajal Menjemput, Sungguh Mengharukan Banget

Seperti Ini Doa Terakhir Mantri Yang Tewas di Pedalaman Papua Sebelum Ajal Menjemput, Sungguh Mengharukan Banget

AGEN TOGEL TERPERCAYASetelah kisah perjuangannya memberi pelayanan kesehatan di daerah pedalaman Kabupaten Telok Wondama, Papua Barat hingga meninggal secara tragis seorang diri menjadi viral di media sosial, sosok Mantri Patra atau Patra Marinna Jauhari baru menjadi sorotan.

Prediksi togel paling jituPadahal seharusnya hal itu terjadi ketika ia berjuang melawan sakit. Ya, sebelum meninggal dunia pada 18 Juni 2019, Mantri Patra yang ditugaskan di daerah pedalaman bersama seorang rekannya mengalami sakit keras.

Warga setempat sudah berusaha menembus hutan rimba selama kurang lebih empat hari, karena daerah pedalaman tersebut tak memiliki akses jalan ataupun moda transportasi, untuk memberitahukan kondisi Mantri Patra kepada instansi kesehatan yang memperkerjakannya.

Namun helikopter tak kunjung dikerahkan menjemput Mantri Patra, sampai akhirnya pahlawan kemanusiaan itu meninggal dalam rumah kayu, yang menjadi saksi bisu perjuangannya dalam melayani masyarakat Telok Wondama.

Bahkan jenazahnya baru dievakuasi empat hari setelahnya, tepatnya pada 22 Juni 2019 dengan menggunakan helikopter Pemda.

Yang tak kalah memilukan, sebelum ajal menjemput, Mantri Patra ternyata menyempatkan diri untuk menuliskan curahan hatinya di secarik kertas.

Adapun bunyi tulisan tangannya, sebagai berikut;

“Baju Putih Kering Berkeringat

Inilah kalian, baju putih berkeringat yang dihiasi debu.

Meski tampak menjijikkan dengan pekerjaanmu saat kalian mendekati mereka

Hanya doa yang selalu kalian haturkan pada Tuhan di setiap gersang tanah hujan. Keringat kalian ada bagi mereka, untuk mereka.

Sambil sesekali merayu kepada Tuhan, kapan semua berakhir, namun tugas dan tanggung jawab berpihak pada kalian.

Dengan tingkah laku dan jiwa yang mencintai mereka, jiwa yang tidak berdosa, di tinggal sakit.

Kalian datang dengan harapan semua sehat.

Bandir pohon menjadi bantal bagi kalian.

Tanpa menghaturkan sepatah kata pun.

Kalian berjalan menembus rimba.

Tidak ada kata sungut di bibir.

Kalian tetap berharap baju putih adalah teman setia di mana keringat itu ada.

Biar semua orang menatap kalian, biar semua orang betah dengan kalian.

Kalian tahu asal kalian tinggi menjangkau langit tak pasti.

Tetapi di sela-sela doa terdengar…

Tuhan.. kami mau mereka rasa tangan kami.

Tuhan kami mau mereka rasa damai kerja kami, kami tak tuntut banyak.